Penetapan 1 Ramadhan 1433 H NU Muhammadiyah tahun 2012

Penetapan 1 Ramadhan 1433 H NU Muhammadiyah tahun 2012
Penetapan 1 Ramadhan 1433 H NU Muhammadiyah tahun 2012 - Sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan 1433 h tahun 2012. Tanggal 1 Ramadhan ini Insya Allah akan jatuh pada hari Jumat 20 Juli 2012 berdasar kalender umum yang beredar dipasaran. Pengamatan masdowi blog, tahun - tahun yang lalu penetapan awal Ramadhan  kadang ada perbedaan. Semoga awal Ramadhan tahun ini tidak ada perbedaan.

NU, Muhammadiyah dan pemerintah yang merupakan 3 komponen penting dalam penetapan awal puasa terkadang ada perbedaan, namun pada dasarnya semuanya benar. Yang tidak benar adalah orang tidak berpuasa. he...he....

NU menetapkan 1 Ramadhan berdasar dengan melihat bulan atau rukyat, dan biasanya akan dilakukan menjelang berakhirnya bulan Sya'ban, jadi sementara ini NU belum menetapkan tanggal 1 Ramadhan jatuh pada hari apa.

Sementara Muhammadiyah sudah menetapkan awal Ramadhan jauh - jauh hari, bahkan 1 Syawal dan Dzulhijjah pun juga sudah ditetapkan. Ini lantaran Muhammadiyah menggunakan system hisab atau perhitungan. Didaerah masdowi penetapan 1 Ramadhan 1433 H biasanya menunggu siaran dari pemerintah, walaupun warganya banyak yang NU.

Terlepas dari perbedaan diatas, sebenarnya ada yang lebih penting yaitu perbanyak ibadah di bulan suci ini. Kita akan kedatangan Tamu yang paling mulia dan harus disambut dengan sebaik - baiknya. Puasa sebulan penuh, shalat tarawih, tadarus Alquran dan masih banyak lagi amalan - amalan lain untuk menyambut tamu agung tersebut

Akhir kata, jadikannlah sebuah perbedaan dalam penetapan 1 Ramadhan 1433 h sebagai rahmat bukan menjadikan suatu permusuhan. Karena kita sesama umat islam adalah saudara. Dan pada kesempatan kali ini, saya sebagai admin mengucapkan mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan yang disengaja atau tidak dalam hal apapun kepada pengunjung setia blog ini. Semoga kita selalu diberikan kesehatan untuk selalu menjalankan wajib dan sunnahnya selama bulan suci Ramadhan yang sebentar lagi datang.

Marhaban Ya Ramadhan

27 komentar:

Kisworo mengatakan...

Saya juga ikut Pemerintah gan.

Meutia Halida Khairani mengatakan...

saya ikut pemerintah juga.. marhaban ya ramadhan :)

Anonim mengatakan...

saya ikut Muhammadiyah yaa..krn menurut saya,itu kayak ilmu pasti yg memang sdh bisa dihitung..

Anonim mengatakan...

lebih baik cari aman aja, seandainya hari Jum'at belum jatuh 1 Ramadhan anggap aja itu puasa sunat dan besoknya jd puasa wajib, dari pada hari jum'at gak puasa ternyata udah masuk 1 ramadhan sama aja teringgal 1 puasanya

Anonim mengatakan...

Seperti biasa, sy selalu merujuk Muhammadiyyah. tp sy ttp menghormati bg yg merujuk NU n Pemerintah.
Betul kata ente bang, yg salah itu kl mengaku Muslim beriman tp gk puasa,,, kecuali bg yg haid yaaa.

Anonim mengatakan...

ta'at pemimpin dalam Islam sama dengan ta'at kpd Allah dan Rosulnya, pemerintah juga ada Muhamadiyahnya kan, Marhaban Ya Ramadan

Cafe Muttaqin mengatakan...

kalau saya dari kecil memang dididik dalam keluarga yang fanatik NU, ya tentu ikut NU

Fuad Daviratma Husni mengatakan...

ikut pemerintah aja.... :)

Anonim mengatakan...

kapan bersatunya Islam kalo puasa aja beda2... hilangkan Muhammadiyah atau NU...kita kan 1 kenapa tidak disatukan pendapat dalam penentuan 1 ramadhan.Malu sama Agama Lain

razanku mengatakan...

Manut karo pemerintah...

Anonim mengatakan...

S E T U J U .....................

mufrodisk mengatakan...

YG INI KOK CUMA DI INDONESIA, DI LUAR NEGERI SANA TETAP SAMA GK ADA BEDA.

YA... SYUKURI AJA YG PENTING SHOLAT JUMAT TETAP DI HARI JUMATAN. DAN MASING2 RAKAAT SHOLAT YG 5 WAKTU GAK BERUBAH... AMIN

Anonim mengatakan...

SEBAGAI MASYARAKAT YANG BAIK.PUASA IKUT MUHAMMADIYAH.LEBARAN IKUT NU..

Anonim mengatakan...

Anonim mengatakan.......
Kenapa baru ditentukan sekarang kan bisa ditentukan setahun sebelumnya seperti Muhammadiyah, kanm zamannya udah canggih, jangan GATEK-lah

Anonim mengatakan...

ngerti opo koen cok.. Manut gak banyak omong selamat.

Anonim mengatakan...

Kata siapa gan?

Sony mengatakan...

Buat "Anonim" jangan menyimpulkan suatu ibadah hanya dengan pemikiran / tehnologi aja, tp ttp hrs merujuk pada Al Qur'an dan Hadits. Karena islam adalah agama yg sudah sempurna, jd merujuknya pada 2 hal itu. di Al Qur'an kyak gmn? di kebiasaan Rasulullah dan para sahabat gmn? smuanya pake ru'yat. klopun ternyata gk kliatan / kurang jelas brrti pake metode Ikmal (menggenapkan) bulan Sya’ban menjadi 30 hari. coba diliat disini : http://www.salafy.or.id/fiqih/ketetapan-syariat-islam-dalam-cara-penentuan-ramadhan-penentuan-awal-dan-akhir-ramadhan-2/ klopun ternyata sbnrnya sdh 1 ramadhan maka bs diqadha puasanya. Wallahu 'alam.

Anonim mengatakan...

Kalau berbeda, selalu alasannya perbedaan adalah rahmat. Ternyata perbedaan adalah rahmat, hadist yg tdk jelas sanadnya. Hal ini dinyatakan oleh Syeikh Muhammad bin Nashiruddin Al-Albani. Menurutnya hadist ini jauh dari kebenaran.

kariaman mengatakan...

SIAPA SAJA BERHAK MENENTUKAN SENDIRI KAPAN 1 RAMADHAN, 1 SYAWAL DAN 1 DZULHIJAH....ENTAH ITU NU, MUHAMADIYAH, FPI, DEWAN MASJID INDONESIA, TORIQOT-TORIQOT, PONDOK PESANTREN DSB, DSB, DSB.......
TAPI YANG LEBIH PENTING DARI ITU ADALAH :
1. KARENA MENYANGKUT HAJAT HIDUP ORANG BANYAK, PEMERINTAHLAH YANG PALING BERHAK...!!!!!
2. MEMENTINGKAN KEPENTINGAN ORANG BANYAK JAUH LEBIH BERMARTABAT DARI PADA KEPENTINGAN KELOMPOKNYA
3. SAYA JUGA MUSLIM.... SENANG KALAU MELIHAT BER IDUL FITRI BERSAMA-SAMA....

Anonim mengatakan...

ya smoga smua mejadi org yg bertaqwa,,setelah lepas dri Romadlon , tuk wanita2 yg blum mnutup auratnya,,stelah romadon mnjadi mnutp aurat kcuali muka n telapak tangan,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Anonim mengatakan...

Buat Mas Sony:
Coba kita kaji lbih jelas Hadits Rasul, "berpuasalah bila melihat hilal". Disini Rasulullah memerintahkan pada kita "berpuasalah" bukan "lihatlah".
Nah, agar lebih mudah memahami ada contoh lain: Rasulullah juga memerintahkan pada kita "ucapkanlah salam bila bertemu dengan sesama muslim", manakah yang menjadi perintah Rasulullah, "ucapkanlah" atau "bertemulah"?. So pasti "Ucapkanlah".
Mudah2an dg logika sederhana ini kita dapat memahami Hadits tersebut.
Lantas kenapa Rasulullah masih pake Ru'yat? Karena Rasulullah dan para sahabat waktu itu blm bisa meng-hisab. sedangkan kita saat ini sudah dapat melakukan hisab dg sangat detil.
Contoh lain penetapan waktu sholat, kita sudah tidak lagi "Melihat Matahari" sebagai patokan tapi cukup melihat jadwal sholat yang sudah kita "Hisab".
Mudah2an ini dapat menjadi bahan kajian kita semua dg tetap berpedoman pada asas saling menghormati satu sama lain. Mhn Maaf dan Trims.

Anonim mengatakan...

Dengan segala kerendahan hati, saya mencoba menyampaikan hasil kajian sederhana saya terhadap 2 dalil mengenai cara menentukan awal Ramadhan.

Coba kita buka surah Al-Baqarah ayat 185:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Maka barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan (awal) bulan maka hendaknya dia berpuasa.”

Mengapa Allah menggunakan kata ”Syahida“ bukan “Ra’a”?

“Ra’a” artinya “Melihat” (dengan mata kepala) sedangkan “Syahida” artinya “Menyaksikan” atau "Bersaksi" yang hal itu dapat dilakukan tanpa harus melihat dg mata kepala, tapi cukup dg menggunakan ilmu pengetahuan.

Sebagai contoh, saat kita Bersyahadat kita mengucap “Aku Bersaksi bhw Tiada Tuhan selain Allah”. Pertanyaannya adalah, “Apakah kita melihat Allah dg Mata kepala? Tentu Tidak. Tp melalui bukti-bukti yg kita temukan pada fenomena alam dan sebagainya kita meyakini Eksistensi Allah. Oleh karena itu, ada orang yang “Seeing is Believing” dan ada yang “Knowing is Believing”. Ada yg melihat dulu baru percaya tapi ada juga yang mengetahui lalu percaya (tanpa harus melihat).

Lantas mengapa Rasulullah memerintahkan kita dg kata “Ra’a” dalam haditsnya “Shumu liru’yatihi..dst”? Karena umat Islam saat itu blm mampu meng-hisab sehingga belum dapat “menyaksikan” (mengetahui) dg tepat kapan awal bulan Ramadhan. Sedangkan Al Qur’an justru menggunakan kata “Syahida” utk menjelaskan pada kita bahwa cara mengetahui awal bulan Ramadhan tidak harus dg melihat langsung dg mata kepala tp bisa juga dg ilmu pengetahuan yg terus berkembang seiring dg perjalanan waktu.

Nah, di sinilah kita paham gunanya memahami dalil-dalil Qur’an maupun Hadits tidak hanya secara Tekstual tapi juga Kontekstual. Dalam konteks semasa hidup Rasulullah yg paling tepat digunakan adalah Ru’yat, tapi seiring berjalannya waktu dan berkembangnya tehnologi maka dalam konteks masa kini kita dapat melakukan hal itu dg ilmu Hisab, dan dg Hisab pulalah kita bisa membuat Kalender Hijriyah dg tepat, sedang dg Ru’yat justru muncul byk keraguan, ada yg mengaku melihat, ada yg mengaku belum melihat, bahkan ada yg mengaku melihat dan berani disumpah tapi akhirnya tdk diakui sumpahnya. Ada pula yg meragukan keputusan pemerintah yang menetapkan 2 derajat sebagai ukuran sudah masuknya awal bulan meski secara empiris hampir tidak mungkin pula melihat hilal pada ketinggian 2 derajat. Oleh karena itu, kita bisa memahami kenapa ada umat Islam yang memilih hisab dg konsep Wujudul Hilal sebagai pedoman mengawali puasa Ramadhan.

Demikian, smoga dapat menambah wawasan kita semua…. Amin.

Anonim mengatakan...

kiblat kita kan di kota makkah,,, jadi kalau ummat islam makkah udah puasa berarti indonesia jg puasa. indonesia dan mekkah cma selisaih beberapa jam. bukan hari. klau di makkah puasa hari jumat berarti di indonesia jga hari jumat.

pungkas murmantoro mengatakan...

subhanallah....
biarpun berbeda tetapi puasa di bulan romadlon tetap berjalan dengan khidmat, tentram dan aman
dalam penafsiran falakiyah sebaiknya kita tdk boleh menduga2, sebaiknya qt merujuk informasi ke ahli fiqh, ahli astronomi...
team falakiyah brunei, indonesia, malaysia, singapura(bimas) sepakat dalam pembahasan penentuan awal romadlon dg rukyat cra rukyat perwilayah(negara) dengan ketentuan hilal min 2 derajat diatas ufuk(yang memungkinkan hilal bs terlihat), umur hilal min 8 jam dll
malaysia sendiri menetapkan apabila salah satu sj unsur tsb terpenuhi maka sdh masuk awal bulan
sedangkan Indonesia menetapkan bahwa unsur2 semua itu harus terpenuhi
Menurut Thomas Djamaludin(ahli astronomi dari LAPAN) kemungkinan besaran derajat tsb akan bertamabah menjadi 4 derajat, akan tetapi hal tsb masih dalam pembahasan
untuk wilayah mesir, saudi dan timur tengah menetapakan dgn cara rukyat hisab, apabila dgn cara rukyat hilal tdk terlihat maka penetapannya merujuk hasil hisab
yang menjadi perbedaan awal bulan di Indonesia adalah penentuan besaran derajat hilalnya
kalau muhammadiyah dgn menggunakan metode wujuduhul hilal( 0,4 derajat atau nol koma berapapun diatas ufuk sdh dianggap awal bulan)
kalau NU mengunakan metode rukyat wilayatul hikmi( min 2 derajat diatas ufuk)
Alhamd rahmat masih tercurahkan ke qt warga negara Indonesia, biarpun berbeda2 kita masih menjalankan ibadah dgn khusuk dan damai

Anonim mengatakan...

saya ikut muhammadiyah ah... sebab jelas jelas matahari dan bulan beredar menurut hitungan (55;5). Masa iya ayat ini salah??

Anonim mengatakan...

yang penting ikut pemerintah ..................smuanya dah ada yang berwenang.........ada yang nanggung ........msalah kok dari dulu diperdebatkan


hs.........................

Anonim mengatakan...

Perbedaan itu bisa disepakati kalo semua ikut pemerintah. Sidang istbat itu dihadiri sebagian besar golongan Islam, pemerintah hanya menyimpulkan dan ketok palu, kalo gak hadir harusnya ikut keputusan rapat. Mungkin pertanyaannya (silakan di jawab sendiri), mana yg nashnya lebih kuat ormas atau pemerintah? di Islam g ada ormas yg ada ulul amri (pemerintah). Kalo urusan itung2an, semuanya ngitung dan itungannya paa dasarnya sama kok.

Poskan Komentar

 
© 2010 - 2012 Mas Dowi | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template